Makna, Simbol, dan Fungsi Parompa Sadum Angkola: Kajian Semiotika

  • Yustina Jindi Lusmiran Simamora Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Murni Simarmata Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Risky Pratama Siregar Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Jekmen Sinulingga Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Dian Berkati Rebeka Purba Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
Keywords: Parompa Sadum Angkola, Semiotika, Roland Barthes, Denotasi, Konotasi, Mitos

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengenali makna simbolik, menggali peran sosiokultural, serta menjalin hubungan antara simbol, makna, dan fungsi dalam Parompa Sadum Angkola sebagai medium komunikasi budaya yang mulai mengalami perubahan makna di zaman modern. Dengan menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif beserta analisis semiotika dari Roland Barthes (denotasi, konotasi, dan mitos), data asli penelitian ini diperoleh melalui wawancara dengan informan utama yang merupakan penutur budaya Angkola yang tinggal di perantauan (Medan) serta didukung oleh studi dokumentasi visual objek kain. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, Parompa Sadum terdiri dari tiga warna dasar dan delapan pola motif utama. Di tingkat konotasi, warna dasar Narara (merah), Lomlom (hitam), dan Nabottar (putih) mencerminkan energi, kepatuhan terhadap hukum adat, dan kesucian hakiki, sementara delapan motifnya Bunga Ros, Jojak, Ruang, Sijobang, Luslus, Pusuk Robung, Singap, dan Rambu na Ginjang secara mendalam menyimpan pesan filosofis yang berbentuk doa keselamatan, kekuatan prinsip, kehati-hatian, kebersihan lahir dan batin ‘Poda na Lima’, nilai kegunaan, serta harapan akan umur panjang. Pada tingkat mitos, makna-makna ini dinaturalisasi oleh masyarakat sebagai tanggung jawab adat yang sakral untuk melindungi spiritual anak. Sebagai kesimpulan, kain ini berhasil menyatukan fungsi praktisnya sebagai alat gendong yang aman dengan fungsi sosiokultural laten dalam tradisi Mangayun, berperan sebagai "teks budaya" untuk melegitimasi status anak dalam marga serta memperkuat stabilitas sosial dalam struktur kekerabatan Dalihan Na Tolu.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Paladin.

Barthes, R. (1977). Image-Music-Text (S. Heath, Trans.). Hill and Wang.

Siregar, B. A. (2020). Nilai-Nilai Budaya dalam Ragam Hias Kain Tenun Angkola. Jurnal Antropologi dan Budaya, 4(2), 115-128.

Niessen, S. (2019). Legacy in cloth: The Batak weaving tradition. KITLV Press.

Harahap, H. (2022). Konstruksi Sosial dan Hukum Adat Dalihan Na Tolu dalam Masyarakat Angkola. Jurnal Budaya dan Pemikiran Islam, 6(1), 45-58.

Nasution, M. A. (2018). Peran Sosiologis Kain Tenun (Ulos/Aban) dalam Upacara Adat Perkawinan Tradisional Mandailing. Jurnal Antropologi Sumatera, 16(2), 112-125.

Saragih, R. (2021). Analisis Semiotik Ragam Hias Gorga Rumah Adat Batak Toba dalam Perspektif Kekerabatan. Jurnal Estetika dan Seni Rupa, 3(2), 89-101.

Kevinia, C., Aulia, S., & Astari, T. (2022). Analisis Teori Semiotika Roland Barthes Dalam Film Miracle in Cell No. 7 Versi Indonesia. COMMUSTY Journal of Communication Studies and Society, 1(2), 38-43.

RerefDianty, W., Puspitasari, D., & Meirantic, A. (2022). Mengkaji makna yang terkandung dalam puisi “Ilusi” karya Heri Isnaini pada buku Montase dengan pendekatan semiotika. Jurnal riset rumpun ilmu bahasa, 1(1), 41-46.

Published
2026-06-16
How to Cite
Simamora, Y. J. L., Simarmata, M., Siregar, R. P., Sinulingga, J., & Purba, D. B. R. (2026). Makna, Simbol, dan Fungsi Parompa Sadum Angkola: Kajian Semiotika. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 6(2), 2523-2532. https://doi.org/10.53769/deiktis.v6i2.3633
Section
Articles

Most read articles by the same author(s)