Laut, Identitas, dan Ekologi Budaya: Kajian Ekokritik Biru terhadap Sastra Bugis-Makassar

  • Bungatang Bungatang Universitas Negeri Makassar
  • Ita Rosvita Universitas Negeri Makassar
Keywords: ekokritik biru; ekologi budaya pesisir; Bugis–Makassar; blue humanities; sastra maritim

Abstract

Penelitian ini bertujuan menafsirkan relasi antara laut, identitas, dan ekologi budaya dalam sastra Bugis–Makassar melalui pendekatan ekokritik biru (blue ecocriticism). Kajian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutik-ekologis, yang menempatkan laut bukan hanya sebagai latar naratif, melainkan sebagai entitas epistemologis dan spiritual dalam konstruksi budaya pesisir. Data penelitian meliputi tiga jenis teks utama yang merepresentasikan kontinuitas estetika maritim, yaitu teks klasik Sureq Galigo, syair lisan elong pabbali-bali, serta puisi kontemporer pesisir seperti “Puisi Nelayan Makassar” karya Rahman Arge dan “Ombak Tak Pernah Diam” karya Syamsul Bahri. Analisis dilakukan dengan memadukan teori metafora konseptual untuk menafsirkan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laut dalam tradisi Bugis–Makassar berfungsi sebagai sumber nilai ekologis, etika, dan spiritual, yang membentuk pandangan hidup masyarakat pesisir tentang keseimbangan dan keberlanjutan. Laut tidak hanya hadir sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai “guru ekologis” yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Hasil kajian ini memperkaya pengembangan teori sastra ekologis dengan menempatkan laut sebagai aktor epistemologis dalam kerangka blue humanities Nusantara. Temuan ini sekaligus berkontribusi terhadap penguatan wacana dekolonisasi teori sastra Indonesia yang berpijak pada ekologi budaya pesisir dan memperluas horizon penelitian sastra berbasis kearifan lokal maritim.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arge, Rahman. (2010). Puisi Nelayan Makassar. Makassar: Benteng Pustaka.
Bahri, Syamsul. (2014). Ombak Tak Pernah Diam. Makassar: Pustaka Layar.
DeLoughrey, Elizabeth. (2019). Allegories of the Anthropocene. Durham: Duke University Press,
Helmreich, Stefan (2011). “Nature/Culture/Seawater.” American Anthropologist Vol 113, no. 1, hal: 132–144.
Ingold, T. (2000). The Perception of the Environment: Essays on Livelihood, Dwelling and Skill. London: Routledge.
Lakoff, George, and Mark Johnson (1980). Metaphors We Live By. Chicago: University of Chicago Press,
Lampe, M (2016). “Belajar dari Nelayan Pengembara Bugis: Wawasan Geo-Bio-Sosial-Budaya Maritim.” Jurnal BRIN.
Lampe, Muh (2018). “Bugis–Makassar Seamanship and Reproduction of Maritime Cultural Values in Indonesia.” Humaniora 24, no. 2 , hal 121–132.
Perdana, A (1996). “Naskah La Galigo: Identitas Budaya Sulawesi Selatan.” Neliti, n.d.
Putri, F. A. 2022. “Budaya Maritim dalam Cerpen ‘Kutukan Keturunan Bajak Laut’ Karya Bagus Sulistio Sebagai Materi Pengenalan Budaya BIPA.” Indonesian Journal of Teaching and Teacher Education 2, no. 1 (2022): 39-52
Rahim, Ahmad (2020). La Galigo dan Tradisi Maritim Bugis. Makassar: Balai Bahasa Sulawesi Selatan.
Salim, S. (2024). “Jaringan Teluk Bone: Aktivitas Pelayaran dan Diaspora Bugis Abad XVIII–XIX.” Jurnal Jawi, Vol. 7, No. 1, 2024: 25-36. doi:10.24042/00202372140200.
Serliana, S. (2022). Makna Ungkapan Maritim Bahasa Makassar. Jurnal Sinestesia, 12(2), 680–684. https://sinestesia.pustaka.my.id/journal/article/view/245. Diakses 25 Oktober 2025.
Stibbe, Arran. (2021). Ecolinguistics: Language, Ecology and the Stories We Live By. 2nd ed. London: Routledge.
Published
2025-09-29
How to Cite
Bungatang, B., & Ita Rosvita. (2025). Laut, Identitas, dan Ekologi Budaya: Kajian Ekokritik Biru terhadap Sastra Bugis-Makassar. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 5(4), 5373-5380. Retrieved from https://www.dmi-journals.org/deiktis/article/view/2670
Section
Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>