Uji Kualitatif Boraks pada Bakso dan Mie Kuning Menggunakan Ekstrak Kunyit sebagai Indikator Alami

  • Christica Christica
  • Desni Rinanda Silitonga Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Reza Fikrih Utama Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Annaura Br Sinaga Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Fetherico Simanjuntak Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Joen Sinaga Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Melda Sitanggang Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Melda Sitanggang Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Yelmi Sihotang Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
  • Yeshonia Fredella Sitorus Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan, Indonesia
Keywords: boraks, kurkumin, kunyit, bakso, mi kuning, keamanan pangan

Abstract

Penyalahgunaan boraks sebagai bahan tambahan pangan masih ditemukan pada produk jajanan yang banyak dikonsumsi masyarakat, seperti bakso dan mi kuning. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan boraks secara kualitatif menggunakan ekstrak kunyit (Curcuma longa L.) sebagai indikator alami berbasis reaksi kurkumin–boraks. Metode yang digunakan bersifat sederhana dan aplikatif, meliputi preparasi sampel, pembuatan ekstrak kunyit, penetesan indikator pada sampel, serta pengamatan perubahan warna. Hasil menunjukkan bahwa sampel yang mengandung boraks mengalami perubahan warna menjadi merah kecokelatan/jingga tua, sedangkan sampel negatif mempertahankan warna kuning. Temuan ini menegaskan bahwa ekstrak kunyit efektif sebagai metode skrining awal boraks yang murah, cepat, dan ramah lingkungan. Namun, metode ini bersifat kualitatif sehingga analisis lanjutan diperlukan untuk penetapan kadar.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anastas, P. T., & Warner, J. C. (1998). Green chemistry: Theory and practice. Oxford University Press.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2011). Pedoman pengujian bahan berbahaya dalam pangan. BPOM RI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Kepala BPOM RI tentang bahan berbahaya yang dilarang dalam pangan. BPOM RI.

BPOM RI. 2012. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: BPOM RI.

Cahyadi, W. 2014. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Bumi Aksara.

Depkes RI. 2009. Profil Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Harborne, J. B. (1987). Metode fitokimia: Penuntun cara modern menganalisis tumbuhan (Terjemahan). ITB Press.

Harmita. 2014. Analisis Fisika dan Kimia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Harris, D. C. (2010). Quantitative chemical analysis (8th ed.). W. H. Freeman and Company.

Rohman, A. (2013). Analisis komponen pangan. Gadjah Mada University Press.

Rohman, A., & Gandjar, I. G. (2007). Kimia farmasi analisis. Pustaka Pelajar.

Saparinto, C., & Hidayati, D. (2006). Bahan tambahan pangan. Kanisius.

Skoog, D. A., Holler, F. J., & Crouch, S. R. (2014). Principles of instrumental analysis (6th ed.). Cengage Learning.

Svehla, G. (1990). Vogel’s qualitative inorganic analysis (7th ed.). Longman.

Winarno, F. G. (2004). Kimia pangan dan gizi. Gramedia Pustaka Utama.

Published
2026-02-24
How to Cite
Christica, C., Silitonga, D. R., Utama, R. F., Br Sinaga, A., Simanjuntak, F., Sinaga, J., Sitanggang, M., Sitanggang, M., Sihotang, Y., & Sitorus, Y. F. (2026). Uji Kualitatif Boraks pada Bakso dan Mie Kuning Menggunakan Ekstrak Kunyit sebagai Indikator Alami. Jurnal Abdimas Indonesia, 6(1), 485-490. https://doi.org/10.34697/jai.v6i1.3136
Section
Articles