Homologi Sosial dalam Lakon Jangan Menangis Indonesia karya Putu Wijaya: Analisis Strukturalisme Genetik

  • Ribby Agustin Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jambi, Indonesia
  • Yusra D Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Jambi, Indonesia
  • Vicky Destiya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Jambi, Indonesia
  • Fina Aliya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Jambi, Indonesia
  • Avindo Surya Making Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Jambi, Indonesia
Keywords: strukturalisme genetik, homologi sosial, pandangan dunia, subjek kolektif, Putu Wijaya

Abstract

Penelitian ini mengkaji naskah lakon Jangan Menangis Indonesia karya Putu Wijaya dengan pendekatan strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik, fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia yang terdapat dalam lakon tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-analitis. Metode deskriptif-analitis digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis struktur teks naskah lakon, meliputi unsur intrinsik seperti tema, tokoh, alur, konflik, serta dialog, yang kemudian dikaitkan dengan struktur sosial masyarakat Indonesia yang tercermin di dalamnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa naskah ini mengandung tema sosial-kemanusiaan dengan alur maju, latar yang menggambarkan suasana penderitaan rakyat kecil, serta tokoh-tokoh yang merepresentasikan kelas bawah. Fakta kemanusiaan tergambar melalui solidaritas, keputusasaan, dan perjuangan hidup rakyat kecil. Pandangan dunia yang muncul bersifat eksistensial-kritis, menekankan perjuangan manusia dalam mempertahankan martabat di tengah penderitaan sosial. Sementara itu, subjek kolektifnya adalah kelompok masyarakat marjinal yang menjadi cerminan realitas sosial Indonesia.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Amelia, A., & Az-Zahra, N. (2023). Sastra dan pertunjukan: Sinergi estetika dalam lakon modern Indonesia. Jurnal Bahasa dan Seni, 11(2), 115–128.

Arifin, Z. (2014). Kritik sosial dalam naskah drama Jangan Menangis Indonesia karya Putu Wijaya. Jurnal Bahtera Sastra Indonesia, 3(2), 45–57.

Arifin, Z. (2024). Kritik sosial dalam naskah Jangan Menangis Indonesia. Jurnal Kajian Sastra Nusantara, 9(1), 33–47.

Arisona, E. (2021). Bahasa sebagai media ekspresi dramatik dalam lakon kontemporer Indonesia. Jurnal Linguistik dan Sastra, 8(1), 14–28.

Artika, D., & Pramayoza, D. (2024). Dramaturgi dalam struktur naskah lakon Indonesia modern. Jurnal Seni dan Teater Nusantara, 12(1), 67–81.

Damono, S. D. (2002). Sastra dan masyarakat. Pusat Bahasa.

Faruk. (2012). Metode penelitian sastra: Sebuah penjelajahan awal. Pustaka Pelajar.

Fernando, A., Wulandari, M., & Rini, T. (2018). Worldview dalam strukturalisme genetik Lucien Goldmann. Jurnal Ilmu Budaya, 6(3), 155–168.

Goldmann, L. (1975). Towards a sociology of the novel. Tavistock Publications.

Jabrohim. (2001). Teori dan kritik sastra: Sebuah pengantar. Pustaka Pelajar.

Lestari, S., Rahmawati, N., & Putra, R. (2025). Makna simbolik dan pesan sosial dalam lakon Indonesia kontemporer. Jurnal Bahasa dan Budaya, 13(1), 21–33.

Lisnawati, D., Nurhayati, E., & Hasanah, R. (2022). Drama sebagai bentuk sastra naratif dan performatif. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 10(4), 234–243.

Muniroch, R. (2020). Kesadaran kolektif dan pandangan dunia dalam strukturalisme genetik. Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 8(2), 50–62.

Nasyitha, R. (2024). Sastra sebagai warisan budaya kolektif Indonesia. Jurnal Humaniora dan Budaya, 9(1), 12–20.

Nugraheni, L. (2023). Representasi ketidakadilan dalam lakon-lakon Putu Wijaya: Kajian postkolonial. Jurnal Kritik dan Estetika, 15(1), 44–58.

Putra, A. (2025). Implikasi strukturalisme genetik terhadap kajian sosial dan sastra Indonesia modern. Jurnal Teori dan Kritik Sastra, 14(1), 9–18.

Putra, M. Z. E. (2025). Kajian strukturalisme genetik pada naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang. PENTAS: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 11(1), 1–9.

Wijaya, P. (2005). Jangan menangis Indonesia. Grasindo.

Ratna, N. K. (2013). Paradigma sosiologi sastra. Pustaka Pelajar.

Widiastutik, R., Hartati, D., & Suntoko. (2022). Kritik sosial dalam drama Indonesia kontemporer. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 9(2), 134–145.

Rozak, A., Kurniawan, R., & Puspita, D. (2023). Fakta kemanusiaan dalam karya sastra Indonesia kontemporer. Jurnal Kajian Humaniora, 11(3), 233–245.

Satrio, H., Laili, N., & Wahyuni, T. (2021). Dinamika sosial dan drama dalam perspektif sastra modern. Jurnal Teater Nusantara, 5(2), 77–88.

Semi, A. (1993). Metode penelitian sastra. Angkasa.

Sigalingging, B. (2020). Subjek kolektif dalam karya sastra: Sebuah kajian sosiologi sastra. Jurnal Kajian Bahasa dan Budaya, 8(1), 88–99.

Sumardjo, J., & Saini, K. M. (1997). Apresiasi kesusastraan. Angkasa.

Trisnawati, E. (2020). Nilai moral dan amanat dalam drama Indonesia modern. Jurnal Bahasa dan Pendidikan, 7(2), 112–123.

Wistara, D., Rahmat, F., & Pradana, H. (2024). Struktur alur dan konflik dalam drama Indonesia modern. Jurnal Sastra dan Pendidikan, 10(1), 41–53.

Engriani, Y., Dewi, S., & Mulyadi, A. (2022). Nilai sosial dalam karya-karya Putu Wijaya. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 9(3), 201–215.

Yusra, D., Mikaresti, & Adiyadmo. (2024). Drama dalam perspektif sastra dan teknik pertunjukan. Penerbit Komunitas Gemulun Indonesia.

Zaenal, A. (2024). Kritik sosial dan politik dalam naskah Jangan Menangis Indonesia karya Putu Wijaya. Jurnal Kritik Sastra, 12(1), 59–73.

Published
2025-12-31
How to Cite
Agustin, R., D, Y., Destiya, V., Aliya, F., & Making, A. S. (2025). Homologi Sosial dalam Lakon Jangan Menangis Indonesia karya Putu Wijaya: Analisis Strukturalisme Genetik. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Sastra, 5(4), 5971-5981. Retrieved from https://www.dmi-journals.org/deiktis/article/view/2886
Section
Articles